Minggu, 23 April 2023

Siapakah Raja Tangguh Penguasa Harimau Sunda? Temukan Sosoknya di Catatan Biografi Museum History of Sundaland!

 

Sobat Museum, pada catatan biografi Musem History of Sundaland (HOS) ini, kita akan membahas kepemimpinan seorang raja yang sangat disegani masyarakat Sunda. Beliau pun memiliki karunia diri luar biasa, yaitu sanggup menundukkan harimau macan putih, atau disebut maung, dalam bahasa Sunda.  

Apabila berkunjung ke Museum History of Sundaland, Sobat Museum akan mendapati rangkaian cerita tentang Kerajaan Sunda, termasuk yang dipimpin oleh Prabu Siliwangi. Selain itu terdapat replika singgasana sang raja yang dapat digunakan untuk berfoto. Seperti anak-anak TK Anaba Subang yang lagi berpose berikut ini!


Prabu Siliwangi

Sang pemimpin Kerajaan Pajajaran ini memiliki nama asli Prabu Dewataprana Sri Baduga Maharaja. Nah, apakah sobat Museum sudah bisa menebak siapa beliau? Betul, nama populernya ialah Prabu Siliwangi.

Foto ; Burutinda.com

Kisah tentang Prabu Siliwangi menjadi salah satu penceritaan hebat mengenai raja-raja Kerajaan Sunda yang akan disampaikan oleh Story Teller Museum History of Sundaland. Persisnya pada zona kedelapan ketika kamu berkunjung ke Museum Tanah Sunda yang berada di Fun World Karnival, Karawang, Jawa Barat ini.

Di Museum History of Sundaland sanga banyak cerita sejarah mengenai kehidupan masyarakat Sunda sejak era purbakala Sundaland, hingga kerajaan-kerajaan besar yang menguasainya. Salah satunya tentu Pajajaran serta Sunda Galuh yang puluhan tahun dipimpin oleh Prabu Siliwangi. Bagaimana kisah selanjutnya? Mari, kita memasuki dunia cerita Prabu Siliwangi, di Museum History of Sundaland!



Legenda Sang Raja Penakluk “Maung”

Simbol harimau Maung sangat lekat dengan legenda Prabu Siliwang, bahkan hingga kini masih dipercaya oleh masyarakat Sunda, dan menjadi sangat ikonik.

Dalam legenda Prabu Siliwangi sang raja dikisahkan menghilang sewaktu dikejar tentara Islam dari Kerajaan Banten dan Cirebon. Tetapi, sebelum beliau menghilang di kegelapan hutan Sancang, Prabu Siliwangi telah berpesan atau menitipkan amanat kepada para pengikutnya. Amanat itu dikenal dengan “Uga Wangsit Siliwangi” yang di antaranya memuat pesan Siliwangi tentang masa depan wacana Pajajaran

Singkat cerita, setelah menyampaikan pesan, Prabu Siliwangi tiba-tiba nga-hyang, moksa, menghilang tanpa pernah ditemukan tubuhnya. Salah satu bunyi wangsit yang populer di kalangan masyarakat Sunda: “Lamun aing geus euweuh marengan sira, tuh deuleu tingkah polah maung.” (Kalau aku sudah tidak menemanimu, lihat saja tingkah laku harimau).

Pertanyaan besar apakah Prabu Siliwangi memang telah bersalin rupa menjadi harimau? Atau pesan tingkah laku harimau tersebut lebih merujuk pada karakter harimau yang diidentifikasi sebagai pemberani dan menyayangi keluarga? Tentu misteri Prabu Siliwangi dalam wujud harimau masih jadi legenda yang abadi di Tanah Sunda.

Asal-Usul Kehidupan Prabu Siliwangi

Republikanews.com

Prabu Siliwangi atau Jaya Dewata lahir lahir pada tahun 1401 di Kawali Galuh, atau sekarang merupakan daerah Ciamis. Sebutan Prabu Siliwangi sendiri berasal dari kata “silih” dan “wangi”, yaitu gelar turun temurun yang diberikan kepada beberapa pemimpin karena menjadi pengganti yang bisa membawa harum nama Kerajaan Pajajaran.

Dalam Prasasti Batutulis, Prabu Siliwangi dinobatkan sebagai raja Kerajaan Sunda dan juga sebagai raja Kerajaan Galuh. Kerajaan Sunda-Galuh inilah yang kemudian dikenal saat ini dengan nama Kerajaan Pajajaran yang berada di bawah kekuasaan Prabu Siliwangi. Pada masa gemilang itu, menurut sebuah naskah Portugis, Kerajaan Pajajaran disebut memiliki 100.000 prajurit dengan 40 ekor pasukan gajah.

Seperti disebutkan sebelumnya, Prabu Siliwangi tiba-tiba menghilang, setelah dikejar oleh pasukan tentara Islam. Saat itu pengaruh Islam memang baru merambah Kerajaan Cirebon dan sekitarnya. Lantas cerita ini erat dengan kejadian pertempuran Prabu Siliwangi dengan anak kandungnya Raden Kian Santang yang mengajak sang Ayah masuk ke agama Islam.

Konon, Prabu Siliwangi menolak ajakan tersebut, sehingga terjadilah pertempuran yang membuat pasukan Raden Siliwangi terdesak. Di tengah suasana perang tersebut, Prabu Siliwangi dikisahkan melakukan moksa dan berubah menjadi macan putih, sementara pengikutnya berubah menjadi macan sancang.

Selengkapnya, Ayoo ke Museum History of Sundaland…

Lalu, bagaimana kisah Prabu Siliwangi dan kehidupan Sunda kuno berjalan pada masa-masa berikutnya?

Yukk, langsung saja berkunjung ke Museum History of Sundaland!  Museum ini menyimpan ratusan koleksi benda bersejarah yang menjadi saksi kehidupan masyarakat Sunda di zaman lampau. Serta dilengkapi sejumlah teknologi I.T kekinian, zona interaktif dengan visualisasi diorama yang menawan, spot foto yang instagramable, serta teknologi Augmented Reality yang membuat beragam obyek gambar 3D di terlihat nyata di ponsel kamu.

Sampai Jumpa di Museum History of Sundaland!


Alamat Museum History of Sundaland

Jl. Arteri Galuh Mas No.30, Sukaharja, Kec. Telukjambe Tim, Karawang, Jawa Barat 41361




 

 

Sabtu, 22 April 2023

Menelusuri Jejak Atlantis yang Hilang di Zona Museum History of Sundaland, Fantastis!

 

Sahabat Museum, apakah kamu penasaran dengan misteri atlantis di negeri kita sendiri? Wahh, ternyata banyak cara menelusuri tanda-tandanya, loch. Seperti melalui penelitian alam, peradaban sejarah, hingga kebudayaan manusia di lokasi tersebut. Nah, dalam waktu dekat ini, kamu bisa segera mencari kepingan-kepingan cerita tersebut, tentu saja dengan berkunjung ke  Museum History of Sundaland di Karawang, Jawa Barat.

Seperti namanya, Museum ini mengurai berbagai sudut kesejarahan Tanah Sunda, melalui kisah-kisah yang sangat mengagumkan. Nah, fakta yang paling menarik ialah bahwa nama History of Sundaland tersebut, sejatinya terinspirasi dari kemisteriusan “Benua Sundaland”.

sumber : detikinet@twitter 

Luar biasanya, seluruh kepingan cerita mengenai Sundaland terangkum pada  ketujuh belas zona disana, dimulai dari zona kisah awal mula kehidupan, penemuan fosil manusia purba di Tanah Pasundan, Zona Kubur Batu dan Austronesia, Gelegar Krakatau dan Suku Baduy, Kebudayaan Buni, Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Sunda dan Pengaruhnya, Kerajaan Champa, dan Tokoh Islam di Tanah Pasundan.

Selain itu terdapat fasilitas teater 3 dimensi yang dilanjutkan zona bertemakan Pengaruh Cheng Ho, Kasultanan di Jawa Barat, Berdirinya Kasultanan Jawa Barat, Jalur Perdagangan Jawa Barat, Kedatangan dan Pengaruh VOC, serta zona Wayang dan Topeng Jawa Barat.

Sundaland, Atlantis yang Hilang?

Sundaland, sebuah nama yang indah, menyiratkan benua tenggelam yang diklaim awal dari negeri kita, Indonesia. Siapakah penghuninya? Diperkirakan manusia purba yang masih sangat primitif seperti Augmented Reality berikut ini : 


Sejarah mengenai Sundaland masih terus dipelajari melalui penelitian dan menemukan fakta-fakta menarik. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa penduduk kawasan ini memiliki kesamaan genetis dengan penduduk asli Asia Tenggara, terutama yang tinggal di wilayah kepulauan.

Sundaland, sering disebut sebagai Indonesia di Zaman Es yaitu pada Periode Glasial terakhir sekitar 18.000 tahun silam. Saat itu laut surut 120 meter dari ketinggiannya hari ini. Akibatnya, wilayah Asia Tenggara menjadi benua besar, dan semuanya terhubung menjadi daratan luas.

Dikutip dari detik.com, Ahli Paleontologi Institut Teknologi Bandung (ITB) Profesor Yahdi Zaim, dalam live 'Eureka! Misteri Indonesia Benua Tenggelam', menjelaskan asal usul wilayah Sundaland. Profesor Yahdi mengungkapkan bahwa istilah 'Sunda' awalnya berasal dari bahasa Sansekerta yaitu 'Cuddha' yang artinya bersih, putih, atau suci. Namun kemudian seiring waktu, penyebutan tersebut berubah menjadi 'Sunda'.

Peta Sundaland / Sumber : Youtube GeoMad

Menurut Profesor Yahdi, wilayah perairan Indonesia ini kemudian dikenal menjadi Sundaland atau Perairan Sunda. Secara biologi dan geografi juga disebut sebagai Sunda Shelf atau Paparan Sunda. Sehingga, Sundaland merupakan ujung dari suatu wilayah dari daratan Asia sampai Asia Tenggara, dan sebagian besar adalah wilayah perairan Indonesia.

Nah, kita kembali pada pertanyaan terbesar sepanjang abad, benarkan Sundaland atau Indonesia merupakan Benua Atlantis yang lenyap akibat disapu Tsunami raksasa? Legenda ini memang begitu terkenal sejak zaman Yunani kuno oleh filsuf Plato dalam buku Timaeus dan Critias.

Saat ini kita pun dihadapkan fakta ilmiah, bahwa Indonesia dulunya adalah Benua Sundaland yang tenggelam. Tidak heran, banyak orang mengaitkan Indonesia sebagai lokasi Benua Atlantis.

Stephen Oppenheimer

Seorang akademisi dari Oxford, Stephen Oppenheimer, pernah diwawancara secara khusus oleh detikcom ketika bukunya pertama kali terbit di Indonesia sekitaran 2010 silam.

Stephen Oppenheimer memang tidak secara eksplisit mengatakan ada Atlantis di Indonesia. Buku Oppenheimer banyak membahas tentang periode Sundaland di Zaman Es. Terlepas dari begitu banyak sangkut-paut, Oppenheimer meyakinkan bahwa suatu awal peradaban dunia memang berasal dari Sundaland, kemudian  manusia menyebar ke seluruh dunia.

Sumber ; GeoMad Youtube

Oppenheimer lantas menulis pada separuh bukunya tentang bukti genetika dan separuh berikutnya kompilasi legenda dan mitologi banjir besar dan benua tenggelam.

Meski demikian tidak semua peneliti dan ilmuwan berkeyakinan serupa tentang hubungan Sundaland dengan Atlantis yang Hilang tersebut. Bagaimana menurut kamu? Apakah ilmu alam Sundaland dan mitologi Atlantis memang saling melengkapi satu sama lain.

Mencari “Atlantis” di Museum History of Sundaland

Peradaban Sundaland bisa jadi sebuah Atlantis yang dapat kita temukan jejaknya di masa kini, baik itu dari benda-benda peninggalan, maupun tradisi-budaya selama berabad-abad. Sekali lagi untuk membuka rasa penasaran kita tak ada salahnya berkunjung ke Museum History of Sundaland.


Saat berkunjung terdapat banyak fasilitas menarik antara lain berbagai spot foto yang dilengkapi teknologi Augmented Reality, sehingga suatu obyek bersejarah dapat menjelma nyata di dalam layar ponsel kita. Seperti yang dikatakan salah seorang pengunjung Museum berikut ini!

Selamat berwisata. Salam Sahabat Museum. Hatur Nuhun!

Lokasi Museum History of Sundaland (Fun World Carnival)

Jl. Arteri Galuh Mas No.30, Sukaharja, Kec. Telukjambe Tim., Karawang, Jawa Barat 41361

 

 

 

 

 

 

 

 

Catatan Biografi Museum History of Sundaland : Kisah Cheng Ho, Laksamana Muslim Paling Tangguh di Tanah Pasundan

 

Saat Anda berkunjung ke Museum History of Sundaland di Karawang, Jawa Barat, para pemandu Museum ini akan bercerita lebih banyak mengenai Cheng Ho. Bahkan Anda diajak-serta melihat berbagai koleksi berharga semasa peradaban Sunda tertua. Disana, Laksamana Cheng Ho telah datang diantara periode akhir dari Kerajaan hindu-Buddha, hingga Kerajaan Islam mulai berkuasa di penjuru Tanah Jawa.

Replika Kapal Chengho di Museum History of Sundaland

Siapakah Laksamana Chenh Ho?

Seorang laksamana penjelajah samudera tiba di Nusantara sekitar abad ke-15. Ia berasal dari Tiongkok, tepatnya Yunnan China, yang saat itu masih dikuasai oleh Dinasti Ming (1403-1424 M). Nama aslinya Ma He, sejak kecil Ia hidup dalam lingkungan masyarakat minoritas Muslim, yang disebut Suku Hui. Begitupun seluruh keluarga Cheng Ho telah beragama Islam turun-temurun. Terlihat dari nama depan Cheng Ho tadi yakni “Ma” yang artinya Muhammad.

Foto : Merdeka.com
Sekitar tahun 1405, Cheng Ho berlayar berkeliling dunia, bukan untuk penaklukkan tetapi bertujuan diplomasi, serta menyebarkan agama dengan santun dan damai. Meski banyak versi menyebut bahwa Cheng Ho belum tentu seorang muslim, seperti keluarganya, melainkan penganut ajaran Buddha, tetapi dirinya sangat menghormati perbedaan agama, dimanapun kapal perkasanya berlabuh.

Sobat Museum, itulah tadi perkenalan kita dengan sosok Laksamana Cheng Ho, seorang pengembara laut yang sangat menyukai keindahan Nusantara.

Perjalanan Laksamana Cheng Ho

Sobat Museum, semula Islam telah masuk lewat Islam telah masuk lewat pedagang dari Gujarat (India) dan Timur Tengah. Pada mulanya Ia melakukan ekspedisi sebab diutus oleh Kaisar China. Kemudian, Cheng Ho membawa gelombang China masuk ke Asia Tenggara, serta diikuti arus penyebaran Islam yang damai.

Cheng Ho telah menghabiskan sekitar 30 tahun usianya untuk melaksanakan pelayaran kolosal seumur hidupnya. Tercatat dalam sejarah maritim armada kapal-kapal Cheng Ho merupakan armada terbesar di kala itu. Ia berangkat dengan 27.000 anak buah yang dimuat dalam 307 kapal.

Saat berada di Nusantara, Cheng Ho sempat berkunjung ke Samudera Pasai. Disana, ia memberikan lonceng Cakra Donya kepada Sultan Aceh yang kini masih tersimpan di Museum Banda Aceh. Pada 1415, Laksamana Cheng Ho juga berlabuh di Muara Jati, Cirebon dan menghadiahi beberapa barang khas Tiongkok kepada Sultan Cirebon. Salah satu pemberiannya adalah piring bertuliskan Ayat Kursi yang masih tersimpan di Keraton Kasepuhan Cirebon.

Peninggalan Cheng Ho lain yang mengagumkan ialah Kelenteng Sam Po Kong, serta patung yang disebut Mbah Ledakar Juragan Dampo Awang Sam Po Kong. Terdapat empat kelenteng yang bisa dikunjungi, yakni Kelenteng Dewa Bumi, Kelenteng Juru Mudi, Kelenteng Sam Poo Tay Djien, dan Kelenteng Kiai Jangkar. Patung Laksamana Cheng Ho berdiri gagah di halaman kelenteng.

Semasa pemerintahan Raja Wikramawardhana, Laksamana Cheng Ho pernah mengunjungi Kerajaan Majapahit. Selain itu pengaruh Cheng Ho di dalam penyebaran Islam pun terlihat dari Masjid Cheng Ho yang ada di Surabaya, Palembang, Malang, dan sejumlah daerah lainnya.

Masjid Chengho (Foto : Okezone Muslim)
Selama pelayaran yang ketujuh atau yang terakhir, Cheng Ho wafat pada tahun 1433. Sang pelaut yang sangat tangguh dimakamkan di Nanjing, China.

Berkunjung ke Museum History of Sundaland

Sobat Museum, demikian catatan kita tentang ketangguhan Laksamana Cheng Ho, yang tercatat pula di dalam ruang koleksi Museum History of Sundaland. Selengkapnya tentang pengetahuan sejarah maupun budaya Tanah Sunda bisa diperoleh melalui kunjungan Museum History of Sundaland. Museum ini dilengkapi sejumlah teknologi I.T kekinian serta terdapat zona interaktif dengan visualisasi diorama yang menawan beserta spot foto yang instagramable. 

Selamat berwisata!


 

 

 

 

Jumat, 21 April 2023

Persis Aslinya, Keindahan Masjid Agung Banten Tampil Nyata di Museum History of Sundaland!

 

Sebuah teknologi 3D yang diadaptasi ke dalam berbagai obyek sejarah, itulah Augmented Reality (AR) pada ruang-ruang koleksi Museum History of Sundaland. Berbagai teknologi AR tampil seakan-akan nyata dapat disentuh oleh pengunjung, padahal obyek tersebut hanya berada di dalam layar aplikasi ponsel.

Sebagai Museum Sejarah Sunda yang berteknologi kekinian, tentu saja History of Sundaland telah mendorong semangat pengunjung untuk berkeliling 17 zona Museum ini, serta menggunakan seluruh fasilitasnya. Terutama penggunaan teknologi Augmented Reality yang ditunjukkan oleh tour guide Museum.

Ketujuh belas zona yang dimaksud antara lain zona panggung dan pementasan, awal mula kehidupan, penemuan fosil manusia purba di Tanah Pasundan, Zona Kubur Batu dan Austronesia, Gelegar Krakatau dan Suku Baduy, Kebudayaan Buni, Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Sunda dan Pengaruhnya, Kerajaan Champa, dan Tokoh Islam di Tanah Pasundan.

Selain itu terdapat fasilitas teater 3 dimensi yang dilanjutkan zona bertemakan Pengaruh Cheng Ho, Kasultanan di Jawa Barat, Berdirinya Kasultanan Jawa Barat, Jalur Perdagangan Jawa Barat, Kedatangan dan Pengaruh VOC, serta zona Wayang dan Topeng Jawa Barat.

Augmented Reality Masjid Agung Banten

Salah satu bentuk AR yang kerap digunakan ialah AR Masjid Agung Banten. Sebelumnya tentu harus mendownload terlebih dulu melalui google play store dengan keyword “History of Sundaland” AR.

Setelah terunduh barulah pengunjung dapat mengarahkan ponsel pada barcode yang tertempel pada papan informasi Masjid Agung Banten. Apabila tepat maka di layar aplikasi ponsel akan keluar gambar 3D Masjid Agung Banten yang mirip seperti aslinya.

Penggunan AR inipun bukan semata-mata hiburan saja namun akan melengkapi pengetahuan kita tentang obyek tersebut. Apalagi yang belum pernah berkunjung ke lokasi aslinya maupun belum paham tentang sejarahnya. Itulah mengapa, selain memiliki ratusan koleksi berharga mulai dari peradaban Sunda Kuno hingga warisan budaya saat ini, Museum History of Sundaland dilengkapi oleh teknologi Augmented Reality secara virtual.

Sejarah Masjid Agung Banten

Nah, seperti apakah sejarah Masjid Agung Banten yang disampaikan melalui AR Museum History of Sundaland tadi?

Masjid Agung Banten adalah warisan kesultanan Banten yang masih berdiri kokoh hingga sekarang. Semula, Kerajaan Banten berada di bawah kekuasaan Kerajaan Demak. Kemudian, Banten berhasil melepaskan diri dari Kerajaan Demak.

Pendirian Masjid Agung Banten dilakukan pada 1566 M tepatnya ketika Maulana Hasanuddin menjabat sebagai Sultan Banten pertama sekitar tahun 1552-1570. Maulana Hassanuddin adalah putra pertama Sunan Gunung Djati.

Pada masa Maulana Yusuf, yang menjadi raja kedua Kerajaan Banten, Masjid Agung Banten dibangun dengan konsep arsitektur bergaya Jawa. Pada tahun berikutnya pun dilakukan sejumlah penambahan salah satunya pawestren atau ruang sholat wanita.

Keunikan utama dari Masjid Agung Banten ialah memiliki pola bangunan dengan alkuturasi 3 budaya, yaitu Arab, Cina, dan Eropa. Ternyata pembangunan awal melibatkan tiga arsitek dari negeri berbeda. Yaitu, Raden Sepat merupakan arsitek utama berasal dari Majapahit yang juga membangun Masjid Cirebon, Tjek Ban Tjut seorang arsitek asal Cina, serta Hendrik Lucaz Cardeel asal Belanda.

Foto : Wikipedia.com

Suatu ciri khasnya tampak jelas dari bentuk menara yang terlihat seperti mercusuar dengan bagian atapnya (bertumpuk lima) layaknya Pagoda Cina.

Sedangkan karya Hendrik Lucaz Cardeel terlihat pada bentuk Tiamah di sebelah selatan masjid. Yaitu, bangunan semacam paviliun yang dahulu sering digunakan para ulama dan umara Banten untuk berdiskusi tentang berbagai masalah keagamaan.

Uniknya, langgam Eropa tampak sangat jelas pada bangunan itu, khususnya jendela besar di bagian tingkat atas. Pemasangan jendela tersebut agaknya dimaksudkan untuk mengatur sirkulasi cahaya dan udara. Sekarang, Tiamah digunakan untuk menyimpan benda-benda bersejarah dari peninggalan Kesultanan Banten.

Lokasi Masjid Agung Banten

Secara lokasi, Masjid Agung Banten termasuk wilayah Desa Banten Lama, sekitar 10 km sebelah utara Kota Serang, ibu kota Provinsi Banten. Keberadaan Masjid ini menjadi tujuan wisata religius, sejarah, pendidikan, dan budaya, terutama pada hari-hari besar keagamaan Islam.

Yuk, Berkunjung ke Museum History of Sundaland

Sekian catatan budaya tentang sejarah Masjid Agung Banten yang ditampilkan oleh teknologi Augmented Reality (AR) bagi para pengunjung Museum History of Sundaland.

Jangan lupa berkunjung ke Museum History of Sundaland untuk melihat berbagai koleksi benda bersejarah dan narasi cerita yang tampil menarik dengan teknologi Augmented Reality (AR).  Salam!

Alamat Museum History of Sundaland

Jl. Arteri Galuh Mas No.30, Sukaharja, Kec. Telukjambe Tim, Karawang, Jawa Barat 41361



Kamis, 20 April 2023

5 Cerita Suku Baduy Memperkuat Semangat Kearifan Lokal di Museum History of Sundaland

Penceritaan sejarah Suku Baduy menjadi salah satu edukasi paling menarik bagi pengunjung Museum History of Sundaland. Suku Baduy merupakan salah satu suku asal Banten yang sangat menjaga warisan adat turun-temurun. Suku ini sangat memelihara tanah nenek moyang mereka, bahkan kearifan lokalnya terlihat pada rumah adat dari kayu, berdinding anyaman bambu dan ditutup atap dedaunan.

Museum History of Sundaland pun mengisahkan Suku Baduy bukan tanpa alasan. Seperti namanya museum ini memang bertema Sejarah Peradaban Tanah Sunda serta mengangkat Kebudayaan Lokal Masyarakat Sunda. Pengunjung dapat berkeliling 17 zona yang bercerita mulai dari awal kehidupan purba di Sundaland, periode kerajaan Hindu-Buddha hingga Islam, sampai dengan berbagai pola kebudayaan masyarakat adat Sunda. Salah satunya Suku Baduy dengan warisan tradisi yang sanggup menyaring pengaruh buruk modernisme.

Perkampungan Suku Baduy (Foto : Kompas.com)

Bagaimanakah Kisah Suku Baduy di Museum History of Sundaland?

Suku Baduy menyebut diri sebagai urang Kanekes atau "orang Kanekes" sesuai nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka. Suku Baduy bermukim di kaki pegunungan Kendeng di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Mengenai kepercayaan mereka masih kental dengan ajaran Sunda Wiwitan serta kedekatan dengan leluhur.

1.    1. Suku Baduy Dalam dan Luar

Suku Baduy terbagi dua golongan yang disebut Baduy Dalam dan Baduy Luar. Perbedaan yang utama dari kedua suku ini adalah saat menjalankan pikukuh atau aturan adat. Apabila Baduy Dalam masih memegang teguh adat serta menjalankan aturan adat dengan baik, sebaliknya tidak demikian Baduy Luar.

Suku Baduy Luar diperbolehkan memakai barang-barang modern seperti halnya elektronik sudah diperkenankan oleh ketua adat yang di sebut Jaro untuk menopang aktivitas dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

2.   2.  Cara Berpakaian

Keseharian Baduy Luar akan mengenakan pakaian adat atau baju yang berwarna putih, terkadang hanya bagian celananya saja bewarna hitam ataupun biru tua. Adapun warna putih melambangkan kesucian dan budaya yang tidak terpengaruh dari luar. Sangat berbeda dengan Baduy Luar yang menggunakan baju serba hitam atau biru tua saat beraktivitas.

Foto : Pegipegi.com

3.     3.Mata Pencaharian

Masyarakat Suku Baduy pada umumnya kerap berladang dan bertani. Kondisi alam yang subur dan berlimpah dimanfaatkan untuk menghasilkan kebutuhan kopi, padi, dan umbi-umbian sebagai komoditas yang paling sering ditanam oleh masyarakat Baduy.

Meski demikian di dalam praktek berladang dan bertani, Suku Baduy tidak menggunakan kerbau atau sapi, karena semua hewan berkaki empat selain anjing sangat dilarang masuk ke Desa Kanekes demi menjaga kelestarian alam.

4.     4.Rumah Hunian Suku Baduy

Seluruh rumah Suku Baduy dibangun dengan batu kali sebagai dasar pondasi, karena itulah tiang-tiang penyangga rumah terlihat tidak sama tinggi dengan tiang lainnya.

Pada bagian dalam terdapat 3 ruangan yang fungsinya masing-masing cukup berbeda. Yaitu bagian depan difungsikan sebagai penerima tamu dan tempat menenun untuk kaum perempuan. Sementara bagian tengah berfungsi untuk ruang keluarga dan tidur, dan ruangan ketiga yang terletak di bagian belakang digunakan untuk memasak, dan tempat untuk menyimpan hasil ladang dan padi.

Seluruh ruang dilapisi antai yang terbuat dari anyaman bambu. Sedangkan pada bagian atap rumah, serat ijuk atau daun pohon kelapa.

5.     5.Keterampilan Budaya

Perempuan Suku Baduy menguasai cara membuat kain tenun sebagai pakaian adat yang bertekstur lembut. Sedangkan kain yang agak kasar biasanya digunakan masyarakat Baduy untuk ikat kepala dan ikat pinggang. Menariknya, selain digunakan dalam keseharian, kain tenun juga diperjualbelikan untuk wisatawan yang datang berkunjung ke Desa Kanekes.

Kain Tenun Baduy (Foto : TangerangRaya.com)
Yuk, Berkunjung ke Museum History of Sundaland

Sekian catatan budaya tentang kehidupan Suku Baduy yang masih setia menjaga tradisi leluhur yang penuh kearifan lokal. Jangan lupa berkunjung ke Museum History of Sundaland untuk melihat berbagai koleksi benda bersejarah dan narasi cerita yang tampil menarik dengan teknologi Augmented Reality (AR).  Salam!


Alamat Museum History of Sundaland

Jl. Arteri Galuh Mas No.30, Sukaharja, Kec. Telukjambe Tim, Karawang, Jawa Barat 41361





Selasa, 18 April 2023

Catatan Budaya Museum History of Sundaland : Kalembak Krakatau, Diantara Mitigasi dan Tradisi Sakral Krakatau

Kalembak Krakatau merupakan tradisi mitigasi kuno yang rutin dilakukan warga seusai terjadinya letusan dahsyat Gunung Krakatau pada 1883. Namun pada tahun 2000-an Kalembak Krakatau ini mulai jarang dilakukan masyarakat pesisir Selat Sunda. 

Pengetahuan tentang Krakatau maupun budaya disana masih tetap sangat menarik digali lebih dalam. Namun sebelum itu kunjungi dahulu Museum History of Sundaland untuk menyimak sejarah meletusnya Gunung Krakatau. Seperti halnya adik-adik dari TK Anaba Sudang berikut ini mereka sangat antusias berfoto di depan diorama gunung Krakatay yang sedang mengalirkan lava pijar. 

Sebelum lebih lanjut, pengetahuan Kalembak Krakatau sekaligus melengkapi referensi Anda ketika berkunjung ke Museum History of Sundaland di Karawang, Jawa Barat.

Pada Museum ini terdapat sejumlah zona ruangan yang mengisahkan tentang sejarah Peradaban Tanah Sunda dan berbagai peristiwanya berabad-abad silam. Mari bercerita tentang Gunung Krakatau yang pada saat diguncang letusan diikuti tsunami raksasa hingga memakan korban jiwa terbesar dalam sejarah dunia.

Sejarah Letusan Gunung Krakatau

Letusan Krakatau sekita 1883 menewaskan kira-kira 36.000 di kawasan Banten dan Lampung (Imadudin, 2009). Seorang Tionghoa yang bernama Ong Leng Yauw yang selamat dari letusan Krakatau menyebutkan gelombang setinggi pohon kelapa menerjang Desa Karangantu dan menghancurkannya (Zarman, 2013).

Gelombang tersebut menyebar ke seluruh Pantai Utara Jawa hingga terlihat sampai Pantai Selatan Jawa, khususnya Cilacap. Jumlah korban dan kerusakan yang tercatat sebanyak 36.417 orang. Kampung yang hancur total sebanyak 165, dan yang hancur sebagian berjumlah 1326 kehancuran.

Catatan sejarah kegiatan vulkanik Gunung Anak Krakatau sejak lahirnya 11 Juni 1930 telah erupsi lebih dari 100 kali baik bersifat eksplosif maupun efusif. Dari sejumlah letusan tersebut waktu istirahat berkisar antara 1 - 8 tahun dan umumnya terjadi 4 tahun sekali berupa letusan abu dan leleran lava.

Foto : Tempo.com

Kronologi Peristiwa Erupsi :

20 Mei 1883 letusan abu dan semburan uap mencapai tinggi 11 km dan suara dentumannya terdengar sejauh 200 km. Pada Juni kegiatan vulkanik juga terjadi di G. Danan. Erupsi paroksisma terjadi pada 26 - 28 Agustus.

Setelah pukul 13.00, 26 Agustus beberapa erupsi terjadi dan mencapai puncaknya pada Minggu 27 Agustus, pukul 10.02 dan pada pukul 10.52 dentumannya terdengar di Singapura dan Australia.

Erupsi ini menyemburkan batuapung dan abunya mencapai tinggi 70-80 km, endapannya menempati area 827.000 km2. Runtuhan tubuh gunungapi ini menyebabkan tsunami dengan tinggi gelombang rata-rata 20 m menyapu pantai-pantai di Selat Sunda dan baratlaut Jawa, serta menyebabkan 36.417 koban jiwa. September dan Oktober letusan freatik.

Apakah Ritual Kalembak Krakatau?

Kalembak dalam bahasa Sunda pesisir terdiri dari suku kata 'kelem ku ombak' atau tenggelam oleh ombak tsunami.

Kalembak lebih pada ritual pemberian pemahaman mitigasi bencana. Seorang warga yang akan melaksanakan ritual Kalembak mulanya bertanya pada seorang Juru Baya. Orang ini adalah penjaga lautan yang mengetahui kapan nelayan harus melaut dan mulai muncul musim angin barat. Ia mengetahui kapan waktu berbahaya bagi nelayan agar tak turun ke laut mencari ikan.

Adapun fungsi Juru Baya cukup mirip dengan fungsi BMKG saat mitigasi bencana masuk masa modern. Juru Baya akan memberi peringatan musim untuk nelayan tak melaut dan mencari penghidupan di dataran tinggi.

Dalam ritual tersebut dibacakan doa dan tahlil. Sebelum dibacakan doa dan tahlil, terlebih dahulu para tetua mengisahkan kembali cerita masa lalu tentang terjadinya Bencana Krakatau. Disampaikan pula sebagai pengingat ciri-ciri alam yang menandai awal terjadinya letusan dan gelombang pasang. 

Usai berdoa dilanjutkan melarung kepala kerbau yang dibawa oleh kapal kecil yang ditarik dengan kapal besar ke tengah Selat Sunda. Kemudian para peserta menutup acara dengan makan bersama. Makan yang disajikan adalah jejongkong dan jejorong sebagai simbolisasi Krakatau.

Sekitar awal 2006-an beberapa kelompok masyarakat mencoba menghidupkan kembali ritual Kalembak namun dilarang karena dianggap bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Gunung Krakatau di Tahun 2023

Saat ini Krakatau merupakan cagar alam atau kawasan konservasi hayati. Saat ini erupsi masih kerap terjadi sehingga kewaspadaan bencana mitigasi secara tradisional maupun modern perlu ditingkatkan.  Itulah mengapa, dapat dijelaskan bahwa mitigasi bencana Gunung Api tak lain serangkai upaya pengurangan risiko bencana, melalui pembangunan fisik, penyadaran, serta berbagai kemampuan menghadapi ancaman bencana.

Foto : Pelita Karawang.com

Demikian catatan sejarah Gunung Krakatau yang sangat berpengaruh pada kehidupan masyarakat khususnya di pesisiran Selat Sunda. Selengkapnya tentang pengetahuan sejarah maupun budaya Tanah Sunda bisa diperoleh melalui kunjungan Museum History of Sundaland.

Fasilitas Museum History of Sundaland antara lain film theatre layar lebar, animasi dan film 3D (Dinosaurus Purba), Kecanggihan IT dan Digital untuk Foto dan Video, QR dan Augmented Reality, tersedia puluhan spot selfie instagramable, serta diorama studio photo dan asesoris gratis.

Kunjungi Museum Modern Sejarah Sunda ini di Karnival Theme Park (Fun & Fit Trampolin), Galuh Mas, Kota Karawang Jawa Barat. Sebuah destinasi wisata edukasi untuk keluarga milenial masa kini.

Selamat berwisata!



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Narasi HOS : Kebudayaan Buni

  Kebudayaan Buni, meninggalkan jejak di daerah Buni, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, yang diperkirakan berkembang pada periode 400 S...