Jumat, 21 April 2023

Persis Aslinya, Keindahan Masjid Agung Banten Tampil Nyata di Museum History of Sundaland!

 

Sebuah teknologi 3D yang diadaptasi ke dalam berbagai obyek sejarah, itulah Augmented Reality (AR) pada ruang-ruang koleksi Museum History of Sundaland. Berbagai teknologi AR tampil seakan-akan nyata dapat disentuh oleh pengunjung, padahal obyek tersebut hanya berada di dalam layar aplikasi ponsel.

Sebagai Museum Sejarah Sunda yang berteknologi kekinian, tentu saja History of Sundaland telah mendorong semangat pengunjung untuk berkeliling 17 zona Museum ini, serta menggunakan seluruh fasilitasnya. Terutama penggunaan teknologi Augmented Reality yang ditunjukkan oleh tour guide Museum.

Ketujuh belas zona yang dimaksud antara lain zona panggung dan pementasan, awal mula kehidupan, penemuan fosil manusia purba di Tanah Pasundan, Zona Kubur Batu dan Austronesia, Gelegar Krakatau dan Suku Baduy, Kebudayaan Buni, Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Sunda dan Pengaruhnya, Kerajaan Champa, dan Tokoh Islam di Tanah Pasundan.

Selain itu terdapat fasilitas teater 3 dimensi yang dilanjutkan zona bertemakan Pengaruh Cheng Ho, Kasultanan di Jawa Barat, Berdirinya Kasultanan Jawa Barat, Jalur Perdagangan Jawa Barat, Kedatangan dan Pengaruh VOC, serta zona Wayang dan Topeng Jawa Barat.

Augmented Reality Masjid Agung Banten

Salah satu bentuk AR yang kerap digunakan ialah AR Masjid Agung Banten. Sebelumnya tentu harus mendownload terlebih dulu melalui google play store dengan keyword “History of Sundaland” AR.

Setelah terunduh barulah pengunjung dapat mengarahkan ponsel pada barcode yang tertempel pada papan informasi Masjid Agung Banten. Apabila tepat maka di layar aplikasi ponsel akan keluar gambar 3D Masjid Agung Banten yang mirip seperti aslinya.

Penggunan AR inipun bukan semata-mata hiburan saja namun akan melengkapi pengetahuan kita tentang obyek tersebut. Apalagi yang belum pernah berkunjung ke lokasi aslinya maupun belum paham tentang sejarahnya. Itulah mengapa, selain memiliki ratusan koleksi berharga mulai dari peradaban Sunda Kuno hingga warisan budaya saat ini, Museum History of Sundaland dilengkapi oleh teknologi Augmented Reality secara virtual.

Sejarah Masjid Agung Banten

Nah, seperti apakah sejarah Masjid Agung Banten yang disampaikan melalui AR Museum History of Sundaland tadi?

Masjid Agung Banten adalah warisan kesultanan Banten yang masih berdiri kokoh hingga sekarang. Semula, Kerajaan Banten berada di bawah kekuasaan Kerajaan Demak. Kemudian, Banten berhasil melepaskan diri dari Kerajaan Demak.

Pendirian Masjid Agung Banten dilakukan pada 1566 M tepatnya ketika Maulana Hasanuddin menjabat sebagai Sultan Banten pertama sekitar tahun 1552-1570. Maulana Hassanuddin adalah putra pertama Sunan Gunung Djati.

Pada masa Maulana Yusuf, yang menjadi raja kedua Kerajaan Banten, Masjid Agung Banten dibangun dengan konsep arsitektur bergaya Jawa. Pada tahun berikutnya pun dilakukan sejumlah penambahan salah satunya pawestren atau ruang sholat wanita.

Keunikan utama dari Masjid Agung Banten ialah memiliki pola bangunan dengan alkuturasi 3 budaya, yaitu Arab, Cina, dan Eropa. Ternyata pembangunan awal melibatkan tiga arsitek dari negeri berbeda. Yaitu, Raden Sepat merupakan arsitek utama berasal dari Majapahit yang juga membangun Masjid Cirebon, Tjek Ban Tjut seorang arsitek asal Cina, serta Hendrik Lucaz Cardeel asal Belanda.

Foto : Wikipedia.com

Suatu ciri khasnya tampak jelas dari bentuk menara yang terlihat seperti mercusuar dengan bagian atapnya (bertumpuk lima) layaknya Pagoda Cina.

Sedangkan karya Hendrik Lucaz Cardeel terlihat pada bentuk Tiamah di sebelah selatan masjid. Yaitu, bangunan semacam paviliun yang dahulu sering digunakan para ulama dan umara Banten untuk berdiskusi tentang berbagai masalah keagamaan.

Uniknya, langgam Eropa tampak sangat jelas pada bangunan itu, khususnya jendela besar di bagian tingkat atas. Pemasangan jendela tersebut agaknya dimaksudkan untuk mengatur sirkulasi cahaya dan udara. Sekarang, Tiamah digunakan untuk menyimpan benda-benda bersejarah dari peninggalan Kesultanan Banten.

Lokasi Masjid Agung Banten

Secara lokasi, Masjid Agung Banten termasuk wilayah Desa Banten Lama, sekitar 10 km sebelah utara Kota Serang, ibu kota Provinsi Banten. Keberadaan Masjid ini menjadi tujuan wisata religius, sejarah, pendidikan, dan budaya, terutama pada hari-hari besar keagamaan Islam.

Yuk, Berkunjung ke Museum History of Sundaland

Sekian catatan budaya tentang sejarah Masjid Agung Banten yang ditampilkan oleh teknologi Augmented Reality (AR) bagi para pengunjung Museum History of Sundaland.

Jangan lupa berkunjung ke Museum History of Sundaland untuk melihat berbagai koleksi benda bersejarah dan narasi cerita yang tampil menarik dengan teknologi Augmented Reality (AR).  Salam!

Alamat Museum History of Sundaland

Jl. Arteri Galuh Mas No.30, Sukaharja, Kec. Telukjambe Tim, Karawang, Jawa Barat 41361



Kamis, 20 April 2023

5 Cerita Suku Baduy Memperkuat Semangat Kearifan Lokal di Museum History of Sundaland

Penceritaan sejarah Suku Baduy menjadi salah satu edukasi paling menarik bagi pengunjung Museum History of Sundaland. Suku Baduy merupakan salah satu suku asal Banten yang sangat menjaga warisan adat turun-temurun. Suku ini sangat memelihara tanah nenek moyang mereka, bahkan kearifan lokalnya terlihat pada rumah adat dari kayu, berdinding anyaman bambu dan ditutup atap dedaunan.

Museum History of Sundaland pun mengisahkan Suku Baduy bukan tanpa alasan. Seperti namanya museum ini memang bertema Sejarah Peradaban Tanah Sunda serta mengangkat Kebudayaan Lokal Masyarakat Sunda. Pengunjung dapat berkeliling 17 zona yang bercerita mulai dari awal kehidupan purba di Sundaland, periode kerajaan Hindu-Buddha hingga Islam, sampai dengan berbagai pola kebudayaan masyarakat adat Sunda. Salah satunya Suku Baduy dengan warisan tradisi yang sanggup menyaring pengaruh buruk modernisme.

Perkampungan Suku Baduy (Foto : Kompas.com)

Bagaimanakah Kisah Suku Baduy di Museum History of Sundaland?

Suku Baduy menyebut diri sebagai urang Kanekes atau "orang Kanekes" sesuai nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka. Suku Baduy bermukim di kaki pegunungan Kendeng di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Mengenai kepercayaan mereka masih kental dengan ajaran Sunda Wiwitan serta kedekatan dengan leluhur.

1.    1. Suku Baduy Dalam dan Luar

Suku Baduy terbagi dua golongan yang disebut Baduy Dalam dan Baduy Luar. Perbedaan yang utama dari kedua suku ini adalah saat menjalankan pikukuh atau aturan adat. Apabila Baduy Dalam masih memegang teguh adat serta menjalankan aturan adat dengan baik, sebaliknya tidak demikian Baduy Luar.

Suku Baduy Luar diperbolehkan memakai barang-barang modern seperti halnya elektronik sudah diperkenankan oleh ketua adat yang di sebut Jaro untuk menopang aktivitas dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

2.   2.  Cara Berpakaian

Keseharian Baduy Luar akan mengenakan pakaian adat atau baju yang berwarna putih, terkadang hanya bagian celananya saja bewarna hitam ataupun biru tua. Adapun warna putih melambangkan kesucian dan budaya yang tidak terpengaruh dari luar. Sangat berbeda dengan Baduy Luar yang menggunakan baju serba hitam atau biru tua saat beraktivitas.

Foto : Pegipegi.com

3.     3.Mata Pencaharian

Masyarakat Suku Baduy pada umumnya kerap berladang dan bertani. Kondisi alam yang subur dan berlimpah dimanfaatkan untuk menghasilkan kebutuhan kopi, padi, dan umbi-umbian sebagai komoditas yang paling sering ditanam oleh masyarakat Baduy.

Meski demikian di dalam praktek berladang dan bertani, Suku Baduy tidak menggunakan kerbau atau sapi, karena semua hewan berkaki empat selain anjing sangat dilarang masuk ke Desa Kanekes demi menjaga kelestarian alam.

4.     4.Rumah Hunian Suku Baduy

Seluruh rumah Suku Baduy dibangun dengan batu kali sebagai dasar pondasi, karena itulah tiang-tiang penyangga rumah terlihat tidak sama tinggi dengan tiang lainnya.

Pada bagian dalam terdapat 3 ruangan yang fungsinya masing-masing cukup berbeda. Yaitu bagian depan difungsikan sebagai penerima tamu dan tempat menenun untuk kaum perempuan. Sementara bagian tengah berfungsi untuk ruang keluarga dan tidur, dan ruangan ketiga yang terletak di bagian belakang digunakan untuk memasak, dan tempat untuk menyimpan hasil ladang dan padi.

Seluruh ruang dilapisi antai yang terbuat dari anyaman bambu. Sedangkan pada bagian atap rumah, serat ijuk atau daun pohon kelapa.

5.     5.Keterampilan Budaya

Perempuan Suku Baduy menguasai cara membuat kain tenun sebagai pakaian adat yang bertekstur lembut. Sedangkan kain yang agak kasar biasanya digunakan masyarakat Baduy untuk ikat kepala dan ikat pinggang. Menariknya, selain digunakan dalam keseharian, kain tenun juga diperjualbelikan untuk wisatawan yang datang berkunjung ke Desa Kanekes.

Kain Tenun Baduy (Foto : TangerangRaya.com)
Yuk, Berkunjung ke Museum History of Sundaland

Sekian catatan budaya tentang kehidupan Suku Baduy yang masih setia menjaga tradisi leluhur yang penuh kearifan lokal. Jangan lupa berkunjung ke Museum History of Sundaland untuk melihat berbagai koleksi benda bersejarah dan narasi cerita yang tampil menarik dengan teknologi Augmented Reality (AR).  Salam!


Alamat Museum History of Sundaland

Jl. Arteri Galuh Mas No.30, Sukaharja, Kec. Telukjambe Tim, Karawang, Jawa Barat 41361





Selasa, 18 April 2023

Catatan Budaya Museum History of Sundaland : Kalembak Krakatau, Diantara Mitigasi dan Tradisi Sakral Krakatau

Kalembak Krakatau merupakan tradisi mitigasi kuno yang rutin dilakukan warga seusai terjadinya letusan dahsyat Gunung Krakatau pada 1883. Namun pada tahun 2000-an Kalembak Krakatau ini mulai jarang dilakukan masyarakat pesisir Selat Sunda. 

Pengetahuan tentang Krakatau maupun budaya disana masih tetap sangat menarik digali lebih dalam. Namun sebelum itu kunjungi dahulu Museum History of Sundaland untuk menyimak sejarah meletusnya Gunung Krakatau. Seperti halnya adik-adik dari TK Anaba Sudang berikut ini mereka sangat antusias berfoto di depan diorama gunung Krakatay yang sedang mengalirkan lava pijar. 

Sebelum lebih lanjut, pengetahuan Kalembak Krakatau sekaligus melengkapi referensi Anda ketika berkunjung ke Museum History of Sundaland di Karawang, Jawa Barat.

Pada Museum ini terdapat sejumlah zona ruangan yang mengisahkan tentang sejarah Peradaban Tanah Sunda dan berbagai peristiwanya berabad-abad silam. Mari bercerita tentang Gunung Krakatau yang pada saat diguncang letusan diikuti tsunami raksasa hingga memakan korban jiwa terbesar dalam sejarah dunia.

Sejarah Letusan Gunung Krakatau

Letusan Krakatau sekita 1883 menewaskan kira-kira 36.000 di kawasan Banten dan Lampung (Imadudin, 2009). Seorang Tionghoa yang bernama Ong Leng Yauw yang selamat dari letusan Krakatau menyebutkan gelombang setinggi pohon kelapa menerjang Desa Karangantu dan menghancurkannya (Zarman, 2013).

Gelombang tersebut menyebar ke seluruh Pantai Utara Jawa hingga terlihat sampai Pantai Selatan Jawa, khususnya Cilacap. Jumlah korban dan kerusakan yang tercatat sebanyak 36.417 orang. Kampung yang hancur total sebanyak 165, dan yang hancur sebagian berjumlah 1326 kehancuran.

Catatan sejarah kegiatan vulkanik Gunung Anak Krakatau sejak lahirnya 11 Juni 1930 telah erupsi lebih dari 100 kali baik bersifat eksplosif maupun efusif. Dari sejumlah letusan tersebut waktu istirahat berkisar antara 1 - 8 tahun dan umumnya terjadi 4 tahun sekali berupa letusan abu dan leleran lava.

Foto : Tempo.com

Kronologi Peristiwa Erupsi :

20 Mei 1883 letusan abu dan semburan uap mencapai tinggi 11 km dan suara dentumannya terdengar sejauh 200 km. Pada Juni kegiatan vulkanik juga terjadi di G. Danan. Erupsi paroksisma terjadi pada 26 - 28 Agustus.

Setelah pukul 13.00, 26 Agustus beberapa erupsi terjadi dan mencapai puncaknya pada Minggu 27 Agustus, pukul 10.02 dan pada pukul 10.52 dentumannya terdengar di Singapura dan Australia.

Erupsi ini menyemburkan batuapung dan abunya mencapai tinggi 70-80 km, endapannya menempati area 827.000 km2. Runtuhan tubuh gunungapi ini menyebabkan tsunami dengan tinggi gelombang rata-rata 20 m menyapu pantai-pantai di Selat Sunda dan baratlaut Jawa, serta menyebabkan 36.417 koban jiwa. September dan Oktober letusan freatik.

Apakah Ritual Kalembak Krakatau?

Kalembak dalam bahasa Sunda pesisir terdiri dari suku kata 'kelem ku ombak' atau tenggelam oleh ombak tsunami.

Kalembak lebih pada ritual pemberian pemahaman mitigasi bencana. Seorang warga yang akan melaksanakan ritual Kalembak mulanya bertanya pada seorang Juru Baya. Orang ini adalah penjaga lautan yang mengetahui kapan nelayan harus melaut dan mulai muncul musim angin barat. Ia mengetahui kapan waktu berbahaya bagi nelayan agar tak turun ke laut mencari ikan.

Adapun fungsi Juru Baya cukup mirip dengan fungsi BMKG saat mitigasi bencana masuk masa modern. Juru Baya akan memberi peringatan musim untuk nelayan tak melaut dan mencari penghidupan di dataran tinggi.

Dalam ritual tersebut dibacakan doa dan tahlil. Sebelum dibacakan doa dan tahlil, terlebih dahulu para tetua mengisahkan kembali cerita masa lalu tentang terjadinya Bencana Krakatau. Disampaikan pula sebagai pengingat ciri-ciri alam yang menandai awal terjadinya letusan dan gelombang pasang. 

Usai berdoa dilanjutkan melarung kepala kerbau yang dibawa oleh kapal kecil yang ditarik dengan kapal besar ke tengah Selat Sunda. Kemudian para peserta menutup acara dengan makan bersama. Makan yang disajikan adalah jejongkong dan jejorong sebagai simbolisasi Krakatau.

Sekitar awal 2006-an beberapa kelompok masyarakat mencoba menghidupkan kembali ritual Kalembak namun dilarang karena dianggap bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Gunung Krakatau di Tahun 2023

Saat ini Krakatau merupakan cagar alam atau kawasan konservasi hayati. Saat ini erupsi masih kerap terjadi sehingga kewaspadaan bencana mitigasi secara tradisional maupun modern perlu ditingkatkan.  Itulah mengapa, dapat dijelaskan bahwa mitigasi bencana Gunung Api tak lain serangkai upaya pengurangan risiko bencana, melalui pembangunan fisik, penyadaran, serta berbagai kemampuan menghadapi ancaman bencana.

Foto : Pelita Karawang.com

Demikian catatan sejarah Gunung Krakatau yang sangat berpengaruh pada kehidupan masyarakat khususnya di pesisiran Selat Sunda. Selengkapnya tentang pengetahuan sejarah maupun budaya Tanah Sunda bisa diperoleh melalui kunjungan Museum History of Sundaland.

Fasilitas Museum History of Sundaland antara lain film theatre layar lebar, animasi dan film 3D (Dinosaurus Purba), Kecanggihan IT dan Digital untuk Foto dan Video, QR dan Augmented Reality, tersedia puluhan spot selfie instagramable, serta diorama studio photo dan asesoris gratis.

Kunjungi Museum Modern Sejarah Sunda ini di Karnival Theme Park (Fun & Fit Trampolin), Galuh Mas, Kota Karawang Jawa Barat. Sebuah destinasi wisata edukasi untuk keluarga milenial masa kini.

Selamat berwisata!



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Senin, 17 April 2023

Koleksi Bekal Kubur Masyarakat Sunda Kuno yang Menawan, Simak di Catatan Prasejarah Museum History of Sundaland!

 

Sobat Museum, berbagai fragmen benda-benda kuno semasa purbakala Sunda menjadi penceritaan yang sangat menarik, terkhusus di Museum History of Sundaland. Sejumlah koleksi artefak disana menandai kehidupan pra-sejarah semasa itu, dimulai dari kebudayaan sehari-hari hingga prosesi kematian.

Koleksi Museum History of Sundaland

Nah, lantas bagaimanakah kisah awal mula kehidupan Sunda dapat dijelaskan melalui koleksi Museum serta fasiitas lainnya? Tentu Anda dapat berkunjung ke Museum Peradaban Sunda yang terletak di Karawang, Jawa Barat ini. Namun sebelum itu agaknya kita perlu memperoleh gambaran mengenai salah satu tema jelajah Museum History of Sundaland, yaitu “Tradisi Kubur Batu Masyarakat Sunda Kuno”.

Tradisi Bekal Kubur Batu Jawa Barat

Pada masa tersebut peti kubur batu biasanya diisikan berbagai benda perantara yang disebut bekal kubur. Penyertaan bekal kubur ini mengikuti keinginan pihak keluarga untuk mencukupi keperluan si mati dalam perjalanan ke alam arwah serta melanjutkan kehidupan disana.

Sekitaran daerah Jawa Barat misalnya banyak temuan fragmen bekal kubur yang unik. Antara lain berupa gerabah, kapak perunggu, gelang batu, dan sebagainya. Meski demikian benda-benda yang dianggap berharga tersebut hanya diletakkan pada kubur orang yang memiliki posisi dalam masyarakat.

Keberadaan situs peti kubur ditemukan masyarakat Desa Belawa, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Menurut jurnal Jejak Aktivitas Penguburan Masyarakat Megalitik di Kaki Gunung Ciremai Jawa Barat, karya Lutfi Yondri, seperti dikutip dari detik.news (22/8/2022), dijelaskan jika situs kubur batu yang berada di Desa Belawa, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, memiliki struktur yang terbuat dari papan-papan batu andesit.

Sumber Foto : detik.com

Pada badan kubur batu ini terbuat dari 6 papan andesit, 4 di antaranya merupakan bagian memanjang, sementara 2 lainnya sebagai pembentuk bagian kedua sisi. Secara keseluruhan, kubur batu di desa ini memiliki ukuran panjang 205 cm dan lebar 70 cm. Sementara untuk arahnya, peti kubur batu tersebut memiliki orientasi ke arah barat dengan deviasi 25 derajat, mengarah ke Gunung Ciremai.

Selain situs kubur batu Cirebon jejak-jejak artefak kubur batu dan tradisinya terdapat pula di Taman Purbakala Cipari di Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Situs Cipari kali pertama ditemukan sekitar 1971 oleh penduduk setempat. Kemudian, pemerintah daerah dan tim khusus yang dipimpin arkeolog Teguh Asmar menggali kawasan tersebut. Sampai akhirnya Tim arkeolog berhasil menemukan peti kubur ukuran besar dengan posisi membujur timur laut-barat daya.

Foto : Situs Cipari detik.com

Di dalam dan sekitar peti itu, tersimpan fragmen periuk, kendi, piring, gelang batu, kapak perunggu, manik-manik, dan tulang hewan. Pada 1975, peneliti menemukan peti kubur batu kedua lengkap dengan penutupnya berukuran 16 cm x 56 cm x 59 cm.

Koleksi Museum History of Sundaland

Di Museum History of Sundaland, Anda dapat melihat sejumlah benda kuno yang berkaitan tradisi kematian, terutama pada zaman purbakala Sunda tadi. Salah satunya koleksi mangkok tanah liat berikut ini :

Mangkok Terracota / Tanah Liat

Mangkok ini digunakan sebagai peralatan makan dan biasanya menjadi buah tangan kepada pendatang / tamu ketika mengunjungi si pemilik mangkok. Hal ini menunjukkan posisi tuan rumah yang berkedudukan di masyarakat. Saat meninggal nanti benda yang dianggap bernilai seperti peralatan makan turut dimasukkan untuk benda bekal kubur di dalam peti. Sekali lagi fungsinya untuk perbekalan arwah menuju kehidupan baru di akhirat.


Itulah bukti bahwa Tanah Pasundan sebagai tanah tua sudah terbentuk sejak zaman kapur dan menyimpan berbagai bukti adanya kehidupan manusia pra-sejarah di masa lalu. Sampai kini penggalian arkeologis masih terus dilakukan oleh para ahli Arkeologi dan Antropologi.

Semakin pingin tahu lebih banyak pengetahuan menarik tentang kehidupan Sunda Kuno serta berbagai kebudayaan berabad-abad silam? Segera kunjungi Museum History of Sundaland di Karawang, Jawa Barat.

Kunjungan Ibu Atalia Ridwan Kamil (Foto : Museum History of Sundaland)

Sejumlah 17 zona Museum terdiri dari  Zona Panggung dan Pementasan, Awal Mula Kehidupan (Origin of Life), Penemuan Fosil Manusia Purba di Tanah Pasundan, Zona Kubur Batu dan Austronesia, Gelegar Krakatau dan Suku Baduy, Kebudayaan Buni, Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Sunda dan Pengaruhnya, Kerajaan Champa, Tokoh Islam di Tanah Pasundan, Teater 3 Dimensi, Pengaruh Cheng Ho, Kasultanan di Jawa Barat, Berdirinya Kasultanan Jawa Barat, Jalur Perdagangan Jawa Barat, Kedatangan dan Pengaruh VOC, serta Mengenal Wayang dan Topeng Jawa Barat.

Seluruh fasilitas Museum ini sangat mensupport 17 zona kunjungan yang dilengkapi spot foto menarik yang dilengkapi teknologi 3 dimensi unik seperti Augmented Reality (AR) melalui unduhan aplikasi pada Google Play Store.


Sekian catatan sejarah tradisi kubur batu yang dapat dibagikan dari Museum History of Sundaland. Salam!

Alamat Museum History of Sundaland

Jl. Arteri Galuh Mas No.30, Sukaharja, Kec. Telukjambe Tim, Karawang, Jawa Barat 41361

 



Minggu, 16 April 2023

Catatan Prasejarah Museum History of Sundaland : Kisah Sunda Kuno Dihuni Penduduk Buni yang Terampil Membuat Gerabah


Pada kebudayaan Buni, sepanjang wilayah Pesisir Banten dan Jawa Barat, seringkali ditemukan beberapa penemuan benda-benda proto sejarah bercorak Austronesia. Berbagai koleksi dan cerita menarik tentang masyarakat Buni menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung museum ini. Apalagi Museum History of Sundaland dikemas dengan balutan teknologi I.T kekinian. Serta memiliki 19 zona interaktif dengan visualisasi diorama yang menawan, beserta spot spot instagramable.

Foto : Museum History of Sundaland


Sumber Foto : Museum History of Sundaland

Sejarah Kebudayaan Buni

Pada zaman terbentuknya daratan Sundaland, diyakini bahwa migrasi Austronesia mencapai hampir seluruh wilayah Nusantara, termasuk di kedua wilayah tersebut.

Setelahnya berkembang kebudayaan buni atau gerabah dari pesisir utara Jawa Barat antara 400 SM hingga abad pertama Masehi. Kebudayaan ini dinamai berdasarkan lokasi penemuannya yang pertama, yaitu di Desa Buni, Kecamatan Babelan, Bekasi, Jawa Barat.

Foto : Gapura.News.com

Sejumlah ahli sejarah meyakini bahwa manusia pendukung Kebudayaan Buni mungkin merupakan pendahulu Kerajaan Tarumanegara, salah satu kerajaan Hindu tertua di Indonesia, sekaligus menandai awal berlangsungnya periode sejarah di Pulau Jawa. Selain itu adanya kontak dengan orang-orang India memunculkan tatanan masyarakat yang lebih kompleks dengan mengadopsi budaya Hindu.

Berbagai Ciri Kebudayaan Buni

Penggunaan gerabah berupa tempayan, periuk, kendi, dan cawan sebagai bekal kubur, pola hias gerabahnya berupa lingkaran memusat gerabah dibuat dengan teknik hias tekan, gores, dipoles dengan warna merah, mendapatkan pengaruh Kebudayaan Sa Huynh, dan manusia pendukungnya mengadakan hubungan dagang dengan bangsa lain.

Foto : Pinterest.com

Situs Kebudayaan Buni

Kini sebuah situs di Jawa Barat sudah menjadi kawasan penemuan benda-benda arkeologi berupa tembikar, yang terdiri dari berbagai bentuk dan ukuran berupa periuk, mangkuk berkaki, kendi dan tempayan.

Menurut sejarahwan Ali Akbar, Situs Buni memiliki nilai sejarah penting. Bahkan, Situs Buni merupakan era prasejarah akhir 500 SM yang manusianya sudah mengenal logam, kapak perunggu, bercocok tanam, melakukan pertukaran barang dan perhiasan emas, tetapi belum kenal tulisan. Sedangkan, masa Tarumanegara pada 700 M.

Dikatakan pula bahwa jarak antara kebudayaan Buni dengan era Tarumanegara sekitar 1200 tahun. Atau tepatnya masa prasejarah akhir, sedangkan zaman neolitik manusianya berjenis homo erectus. Manusia Homo erectus ini ditemukan fosilnya di Situs Purbakala Sangiran Jawa Tengah. Selain fosil manusia purba, diketemukan pula kekayaan fosil binatang-binatang purba, artefak, dan hasil kebudayaan manusia praaksara. 

Foto : Kumparan.com

Sedangkan pada Situs Buni ditemukan adanya beliung persegi, artefak logam perunggu dan besi, gelang dari batu dan kaca, perhiasan emas, manik-manik, bandul jala dari terakota dan tulang belulang manusia. Koleksi inilah yang konon dimiliki oleh masyarakat Buni.

Keterkaitan ini menunjukkan relasi manusia purba di Jawa Tengah dan Jawa Tengah dengan pola kebudayaan yang serupa. Masyarakat Buni pun telah mengenal tradisi penguburan langsung tanpa wadah dengan tembikar sebagai bekal kuburnya, namun demikian tidak menutup kemungkinan bahwa tembikar-tembikar tersebut dimanfaatkan pula untuk keperluan sehari-hari.

Pada masa perundagian, penggunaan tembikar Buni semakin berkembang seperti periuk, kendi, cawan miarni, cawan berkaki, tutup dan bandul jala. 

Penemuan harta karun perhiasan tersebut, mengundang masyarakat lain dari kampung lain, kota Bekasi, Jakarta dan wilayah lain untuk mengadu nasib di Buni. Dampaknya, Buni tempat ditemukannya perhiasan emas itu menjadi ramai laksana pasar. Itulah mengapa pada perkembangannya Kampung Buni lebih dikenal dengan julukan Kampung Buni Pasar Emas.

Penemuan yang umum adalah gerabah yang diduga sebagai salah satu benda magis untuk alat upacara atau sebagai bekal kubur. Penemuan gerabah ini bersama dengan tulang-tulang manusia dan benda lainnya seperti beliung batu persegi, gelang batu daln sebagainya.

Pengaruh India Kuno

Penelitian menemukan jika masyarakat Sunda kuna pendukung tradisi tembikar Komplek Buni (tradisi prasejarah) telah melakukan kontak dengan daerah luar (Indis) sehingga berkembang menjadi sebuah masyarakat pendukung Budaya Buni.

Penyebaran gerabah Kawasan Budaya Buni berasal Arikamedu melalui Tamluk dan Tamralipa (India). Sebuah pelabuhan kuno yang besar dan ramai masa Dinasti Pala, meskipun sesungguhnya Tamluk telah lebih dahulu muncul dibandingkan dengan Dinasti Pala.

Kota Tamluk bukan saja sebagai kota pelabuhan melainkan pula telah menjadi pusat agama Budha di Bengal. Menurut berita Fa hien, Hiun Tsang dan I-Tsing, Tamluk dikenal sebagai pusat agama Budha (Gayatri Sen Majumdar, 1983:4).

Sundaland Museum

Foto : Museum History of Sundaland

Di Museum History of Sundaland, tersajikan beragam ceritera sejarah Sunda yang sangat lengkap, mulai dari Zaman Purbakala Sundaland, Kebudayaan Buni, Ekspedisi Laksamana Chengho, Misteri Gunung Padang, Tradisi Kubur Batu, Jejak Suku Baduy, megahnya Kesultanan Cirebon & Kanoman, Perkasanya  Kerajaan Pajajaran dengan Prabu Siliwanginya, serta bagaimana rahasia tentang Tanah Pasundan sesungguhnya,

Kunjungi Museum Modern Sejarah Sunda ini di Karnival Theme Park ( Fun & Fit Trampolin), Galuh Mas Kota Karawang Jawa Barat Destinasi Wisata Edukasi untuk keluarga milenial masa kini

Alamat 

Jl. Arteri Galuh Mas No.30, Sukaharja, Kec. Telukjambe Tim., Karawang, Jawa Barat 41361

 

 

 


Biografi Museum History of Sundaland : Persahabatan Syekh Quro dan Laksamana Cheng Ho Panutan Tokoh Islam yang Damai

Alkisah perjalanan Syech Quro dapat anda temukan saat berkunjung ke Museum History of Sundaland di Jawa Barat. Museum sejarah Sunda dan perkembangan Islam ini dibalut dengan teknologi kekinian yang informatif. Lokasinya berada di Jalan Galuh Mas Raya, Sukaharja, Kecamatan Teluk jambe Timur, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Perjalanan hidup Syech Quro, seorang ulama pertama di Tanah Sunda, terkait erat dengan kisah kedatangan Laksamana Cheng Ho ke Nusantara. Syekh Quro dan Syekh Nurjati adalah mubalig penyebar Islam di Cirebon yang dibawa oleh Laksamana Cheng Ho saat ekspedisi yang ketiga, dan mereka berlabuh di Pelabuhan Cirebon atau Muara Jati.

Siapakah Syekh Quro?

Foto : Tangkapan Layar Youtube "Kisah Muslim Official"


Syech Quro, sosok ulama yang sangat dihormati pada 1405 - 1433, berasal dari Campa atau sekarang disebut Kamboja. Menurut naskah Purwaka Caruban Nagari, beliau putra ulama besar Perguruan Islam yang bernama Syekh Yusuf Siddik. Beliau memiliki garis keturunan Syekh Jumadil Kubro dan kakeknya Syekh Jalaluddin, seorang ulama dari Mekkah. Nama asli Syech Quro adalah Syekh Hassanudin.

Syekh Quro datang terlebih dahulu ke Amparan bersama rombongan dari angkatan laut Cina dari Dinasti Ming yang ketiga dengan Kaisarnya, Yung Lo (Kaisar Cheng-tu). Armada angkatan laut tersebut dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho alias Sam Po Tay Kam. Mereka mendarat di Muara Bengawan Manuk (Indramayu) pada tahun 1412 M.

Seluruh armada Laksamana Cheng-Ho telah masuk Islam. Armada tersebut hendak melakukan perjalanan melawat ke Majapahit dalam rangka menjalin persahabatan. Ketika armada tersebut sampai di Pura Karawang, Syekh Quro (Syekh Hasanudin) beserta pengiringnya turun.

Foto ; Suara Jateng.com

Laksamana Cheng Ho dan pasukannya kembali ke Cirebon pada ekspedisi ketiga dan menetap lebih lama dibandingkan pertama kali saat mendarat di Cirebon. Saat itu Cheng Ho membawa Syekh Quro dan Syekh Nurjati, yang kemudian menetap di Cirebon untuk menyebarkan Islam di Karawang.

Selanjutnya, Syekh Quro datang di Karawang pada tahun 1418 Masehi, setelah mendarat di Muara Jati Cirebon tahun 1416 masehi. Syekh Quro menumpang armada Laksamana Cheng Ho, yang diutus Kaisar Tiongkok Cheng Tu atau Yung Lo (raja ketiga zaman Dinasti Ming).

Syekh Quro diberi lahan oleh Raja Sunda-Pajajaran yang berada di Pelabuhan Bunut - Kertayasa (Kampung Bunut, Kabupaten Karawang sekarang ini). Syekh Hasanudin dikenal sebagai Syekh Quro karena dia adalah seorang yang hafal Al-Quran (hafidz) dan sekaligus qori yang bersuara merdu.

 Makam Syekh Quro Karawang

Para tokoh ini telah mengajarkan Islam secara formal yang pertama kali di Jawa Barat. Syekh Datuk Kahfi di Indramayu, Syekh Quro di Karawang dan Syekh Nurjati di Cirebon.

Pada tahun 1338 Saka (1416 M) Syekh Quro mendirikan pesantren di Pura Dalem, diberi nama Pondok Quro yang artinya tempat untuk belajar Al Quran.

Setelah melakukan islamisasi di Karawang, Syech Quro kemudian menjalani hidup religi di Kampung Pulobata, Pulokalapa, dan disana pun beliau dimakamkan.

Foto : Umma.id

Sampai kini kompleks makam Syekh Quro tidak asling bagi warga Karawang. Bangunan cungkup makam Syech Quro terbagi tiga bagian. Bagian depan merupakan bagian terbuka, bagian tengah merupakan ruangan untuk berdoa, dan bagian dalam tempat makam Syech Quro.

Para peziarah tidak diperkenankan memasuki ruangan makam Syech Quro, peziarah cukup sampai di depan pintu ruangan. Di depan pintu tersebut terdapat beberapa benda untuk ziarah seperti tempat pembakaran kemenyan, beberapa plastik tempat air mineral yang berisi air dari sumur keramat, dan kotak kayu tempat shodaqoh.

Di samping cungkup makam terdapat salah satu sumur keramat yang dinamakan sumur awisan berdiameter 1 m. Jirat makam berukuran 2,70 x 2,25 m, serta nisan terbungkus kain dengan tinggi sekitar 85 cm.

Konon, nisan makam Syech Quro ditemukan oleh Raden Sumareja dan Syech Tolha pada hari Sabtu akhir bulan Sya’ban tahun 1859. Komplek makam ini berada di pemukiman penduduk Kampung Pulobata, Desa Pulokalapa.

Foto : news. karawang.center.com

Di Museum History of Sundaland pengunjung dapat berfoto dengan replika tenda Syech Quro : 

replika tenda Syech Quro


Peninggalan  di Museum History of Sundaland

Selengkapnya tentang Syekh Quro, Syekh Datuk Kahfi, Syekh Nurjati, dan untuk melihat benda peninggalan jejak artefaktual Laksamana Chengho, dapat kita pahami melalui kunjungan Museum History of Sundaland. Selain itu kisah menarik lain seperti misteri Gunung Padang, penemuan Manusia Buni, tradisi kubur batu, jejak suku Baduy, megahnya Kesultanan Cirebon & Kanoman, perkasanya  Kerajaan Pajajaran dengan Prabu Siliwanginya, serta bagaimana rahasia tentang Tanah Pasundan sesungguhnya.

Replika Kapal Chengho (Foto : Museum History of Sundaland)

Semua pengunjung akan dipandu Guide Museum untuk menelisik informasi HISTORY OF SUNDALAND MUSEUM yang memiliki 19 zona interaktif dengan visualisasi diorama yang menawan serta berbagai spot foto instagramable.

Fasilitas Museum History of Sundaland antara lain film theatre layar lebar, animasi dan film 3D (Dinosaurus Purba), Kecanggihan IT dan Digital untuk Foto dan Video, QR dan Augmented Reality, tersedia puluhan spot selfie instagramable, serta diorama studio photo dan asesoris gratis.

Kunjungi Museum Modern Sejarah Sunda ini di Karnival Theme Park (Fun & Fit Trampolin), Galuh Mas Kota Karawang Jawa Barat. Sebuah destinasi wisata edukasi untuk keluarga milenial masa kini.



 

 

 

 

 

 

 

Narasi HOS : Kebudayaan Buni

  Kebudayaan Buni, meninggalkan jejak di daerah Buni, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, yang diperkirakan berkembang pada periode 400 S...